Friday, June 15, 2018

CERPEN : PELANGI DALAM KEMARAU



PELANGI DALAM KEMARAU

Keajaiban bukan hal mustahil. Selagi masih ada kepercayaan dalam sebuah harapan. Beberapa hari ini langit sedang bersukacita memberikan butiran-butiran bening ke bumi. Namun cuaca berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang dirasakan Aurora. Hidupnya seolah merasakan terik matahari pada puncaknya. Kering kerontang layaknya mati. Tak berdaya.
Aurora yakin suatu saat akan ada pelangi dalam kemarau untuknya, yang memberikan butiran kesejukan. Membebaskannya dari belenggu keterpurukan. Dan selalu menenangkan hatinya. Walau hanya keajaiban yang mampu mewujudkannya.
           Upacara bendera berjalan dengan khidmat. Semua siswa mengikutinya dengan tertib. Petugas PMR terlihat menganggur karena cuaca tak memberikan alasan untuk tak nyaman mengikuti upacara. Setelah selesai semua siswa kembali ke kelas. Tak seperti biasanya kali ini Ibu Lina datang bersama seseorang. “Selamat pagi anak-anak…!” suara Ibu Lina memecah keramaian. “Pagi Bu…!” jawab mereka serentak. “Anak-anak di kelas kalian ada siswa baru. Silahkan perkenalkan diri kamu!” Ibu Lina menyuruh cowok tinggi, putih, dan berlesung pipi itumemperkenalkan dirinya. “Hai, semuanya nama saya Rizal Fahruddin. Kalian bisamemanggil saya Rizal. Di sini saya memohon bimbingan dari kalian semua…” Katanya dengan disertai senyuman. Seisi kelas menjadi riuh, apalagi para cewek. Bahkan salah satu dari mereka ada yang menyeletuk. “ Manis banget senyumnya…lesung pipinya lucu dech…” Kemudian Ibu Lina menyuruh cowok itu duduk di sebuahbangku kosong, tepat di belakang Aurora.
           Pelajaran Biologi berakhir. “Hai, aku boleh pinjem catatan kamu?” Aurora melihat ke asal suara. “Gak boleh, seharusnya jadi murid baru kamu harus lebih aktif.” Rizal tercengang. “Maaf…” ia tersenyum pada Aurora.“Nih, aku pinjemin.” Aurora menyerahkan catatan Biologinya sambil berlalu. “Terimakasih,” Rizal heran dengan sikap cewek itu. “Gak usah heran, dia emang aneh. Mending kamu pinjem catatanku aja.” Seorang cewek bernama Dila menghampirinya. “Terimakasih tapi aku udah pinjem sama. . .” Dila tersenyum kecut. “Namanya Aurora. Mending kamu gak usah deket-deket sama dia.” Katanya masih dengan senyum kecutnya. “Emangnya kenapa?” Rizal menyelidik. “Kamu lihat kan gimana sikap dia? Dia gak mau berteman sama siapapun. Kecuali sepupunya yang satu bangku dengan dia itu.” Ucapnya dengan kesal. “Kenapa dia seperti itu?”Dila menggeleng. “Semua orang benci sama dia…”
           Rizal masih tak mengerti. Dia sama sekali tak mempercayai ucapan Dila. Karena ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Aurora.
           Pagi ini langit menurunkan butiran bening disertai gelegar petir. Entah langit sedang bersukacita atau marah… Suasana kelas tampak ramai dan berisik. Karena guru matermatika belum datang untuk mengisi pelajaran. Tiba-tiba Aurora bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri Rizal yang sedang asik ngobrol. Merasa dihampiri Rizal tersenyum ramah. “Apa yang kamu lakukan dengan bukuku!” Aurora membanting catatan Biologinya ke meja. Suasana menjadi hening, semua orang memperhatikan mereka.“Jangan kamu pikir aku suka sama coretan itu!” Rizal tetap tersenyum. “Aku hanya ingin bersahabat dengan kamu.” Kemudian ia mengambil buku yang tadi dibanting Aurora dan mengembalikannya. “Kamu lancang!” Aurora menyobek lembaran dalam bukunya yang bertuliskan ‘you are beautifull’. “Ra,udah… jangankayak gini.” Via menenangkan Aurora.Dila tak mau kalah. “Kamu gak apa-apa kan,Zal?” tanyanya. Rizal diam tak menjawab. Merasa diabaikan ia mengambil langkah lain. “Dasar cewek aneh!” Dila menjambak rambut Aurora dengan kencang. “Apa yang kamu lakukan?” Aurora mencoba menghindar. “Lepasin!” Via menarik tangan Dila yang mencengkram rambut Aurora. “LepaskanAurora!” Rizal turun tangan. Akhirnya Dila melepaskan jambakannya. “Ditangannya terdapat rontokan rambut Aurora.“Gila, rambut rambut kamu rontok banyak banget.” Ucap Dila dengan sinis tanparasa bersalah. “Kamu yang gila! Sekali lagi kamu berani nyentuh seujung rambut Aurora, kamu akan berhadapan sama aku!” Via tidak terima saudaranya diperlakukan seperti itu.“Pak Bakti datang…!!!” Seru salah seorang siswa, menyibak ketegangan. Semua segera duduk di bangku masing-masing, menciptakan suasana setenang mungkin, danlarut dalam pelajaran.
           Menikmati ketenangan dalam sepi, setidaknya itu yang bisa dirasakan Aurora saat ini. Ia tenggelam dalam buku yang dibacanya hingga tak menyadari seseorang memperhatikannya. Cowok itu menyodorkan sebuah buku padanya. “Apa ini?” Aurora membuka buku yang diberikan padanya. “Aku harap kamu suka.” Rizal tersenyum.
           “Puisi…” Ucap Aurora lirih. “Dari mana kamu tahu aku menyukai puisi?” Lagi-lagiRizal tersenyum. “Karena aku sering memperhatikan kamu.”
           “Kenapa kamu sering memperhatikanku?”
           “Karena aku ingin bersahabat denganmu.”
           “Kenapa kamu ingin bersahabat denganku?”
           “Ya, karena aku ingin aktif  sebagai anak baru, berteman sama siapapun.”
           Aurora tertunduk. Mereka terdiam. Berkecamuk dengan pikiran masing-masing. “Aku minta maaf…” Ucap mereka bersamaan. Mereka tersenyum menertawai diri mereka sendiri.“Jadi, kamu udah gak marah sama aku?” tanya Rizal penuh harap. Aurora mengangguk, ia tersenyum. “Sahabat?”Rizal mengulurkan tangannya. Aurorakembali tertunduk, ia terlihat kebingungan. “A… aku sepertinya aku melupakan sesuatu. Maaf aku harus pergi.” Katanya gugup seraya meninggalkan Rizal dengan rasa herannya.
           Kala senja menyambut sang mentari. Saat itulah dunia melupakan sisi gelapnya. Entah apa yang telah merasuki Aurora. Kini ia lebih bersahabat terhadap semua orang, termasuk pada Rizal. Malah akhir-akhir ini mereka sering terlihat bersama. Menulis, membaca, dan berpuisi bersama. Seperti pagi ini mereka sedang membahas puisi karya puisitis ternama di taman sekolah. “Ra, aku punya puisi untuk kamu…” Rizal menatap Aurora yang duduk disampingnya. “Apa?” Tanya Aurora penasaran. “Ah… tidak ini bukan puisi tapihanya suatu rangkaian kalimat.” Aurora mengernyitkan kening. “Hmmm… Baiklah apapun itu aku ingin mendengarkannya.”Ucapnya. Rizal menghela nafas dalam-dalam dan menundukkan wajahnya. “Akumungkin tak sempurna. Tak banyak mengerti tentang keajaiban. Tapi izinkankumenjadi pelangi dalam kemarau untukmu…” Rizal menmghela nafas lebih dalam. “Akusayang kamu Aurora…Bukan sebagai sahabat tapi…” Tiba-tiba Auroramenjatuhkan kepalanya ke pundak Rizal. Rizal merasakan ada tetesan yangmembasahi pundaknya. “Aurora, apakah kamu menangis?” tanyanya seraya melihat pada Aurora. Rizal tersentak. “Aurora…!!!”ia sangat panik. Aurora pingsan dengan darah mengalir dari hidungnya.
           Rizal lemas, tubuhnya serasa lumpuh dan hatinya terasa hancur. Setelah mendengar penuturan dari Via. Selama ini tanpa satupun orang yang tahu ternyata Aurora menderita penyakit kanker otak. Kini Rizal baru mengerti mengapa Aurora selalu bersikap tak ramah pada oranglain. Karena ia tak ingin meninggalkan kenangan dan membuat rasa kehilangan.“Tapi bukankah masih ada  harapan untuk sembuh?” Rizal beruraian air mata.“Jika operasi berhasil maka semunya akan baik-baik aja.” Via menenangkan Rizal.“Aku yakin dia pasti sembuh…”
           Angin bertiup lembut mempermainkan debu dalam kemarau. Kering kerontang, layu,tandus, seperti mati. Tak ada kabar mengenai Aurora. Sudah tiga bulah sejak operasi Viabungkam. Walau seribu kali Rizal bertanya padanya. Senyuman khas dengan lesungpipi kini seolah lenyap. Hari-hari Rizal terasa muram. “Bagaimana keadaan Aurora???” tanyanya untuk kesekian kali. “Rizal… Kamu gak usah khawatir, sekarang Aurora telah tenang…” Tubuh Rizal terasalemas, ia jatuh terduduk di hadapan Via. Rizal tertunduk memejamkan mata menahan tangisnya. Tapi tetap saja butiran-butiran bening mengalir bagaikanhujan. “Rizal…” Rizal masih tenggelam dalam lautan dukanya. “Rizal…” Suaralembut itu kembali muncul. Rizal tercengang. Ia membuka matanya. Seorang cewekberdiri di hadapannya dengan mengenakan rok abu-abu panjang, baju putihpanjang, dan kerudung berwarna putih bersih. “Aurora…!!!” Rizal bangkit. “Iya, Rizal…”Cewek itu tersenyum. “Tapi…tapi…tadi…” Rizal menatap Via. “Aku kan belum selesaibicara, kamu sudah nangis seperti itu…” Auroratersenyum. “Sekarang aku merasa tenang, Rizal. Aku telah memantapkan hati untuk memakai hijab. Dan selalu mensyukuri hidup dengan makin dekat dengan Allah.”Rizal tersenyum dengan lesung pipinya. “Kamu terlihat sangat cantik, Aurora…”
           Keajaiban memang benar ada, ia nyata. Terkadang datang tak terduga. Kini kemarau telah tersejukkan butiran bening air mata kebahagiaan. Karena keajaiban pelangi dalam kemarau.

*END*

Karya tahun 2013.

Thursday, June 14, 2018

Cerpen : Belenggu Bahu Laweyan

Belenggu Bahu Laweyan

Segala asa yang terangkai dengan sempurna, seolah luruh seketika. Tiada makna, angan yang terlalu menggebu terbelenggu ego. Hati bagai tercabik sembilu. Pahit dan manis selalu dilewati bersama. Namun tak berarti. Bisakah semua ini dijelaskan dengan kata-kata, mengapa sebuah rasa bisa hilang?
Arila masih tidak bisa menerima kenyataan. Hubungan dengan Riko yang bertahan sekian tahun kandas begitu saja.
Air mata Arila tumpah membasahi selembar foto yang telah ia cabik dengan pisau. Tampak potret bahagia Arila, Riko, dan Dina.
Sore itu, Arila berlari menyelusuri koridor kampus. Ia sudah tak sabar ingin menunjukan ide skripsinya pada Riko. Tinggal selangkah ia sampai di ruang UKM fotografer, tempat Riko biasa menghabiskan waktu sepulang kuliah. Arila mengusap keringatnya dan sedikit merapikan riasan. Dengan senyum manis ia membuka pintu dan memanggil Riko. Namun Riko tak ada di ruangan. Di sana nampak seorang gadis yang sedang sibuk menata sesuatu, ia berbalik dan tersenyum pada Arila.
“Kamu ngapain di sini, Dek?”
“Lagi nungguin Kak Riko. Mau koordinasi kerjaan, Kak.” Jawab Dina sambil buru-buru memasukan sesuatu ke dalam tasnya.
“Apa itu, Dek...” Arila merebut tas Dina dengan candaan seperti yang biasa mereka lakukan. Dina tertawa lalu merebut tas itu kembali. Mereka tertawa bersama sampai akhirnya tas itu lepas dari tangan Dina dan jatuh ke lantai. Semua isi tas berhamburan termasuk setumpuk undangan yang sejak semula Dina sembunyikan.
Arila buru-buru mengambil undangan itu, tertera nama Riko Bramantyo dan Dina Resta Ananda. “Maksudnya apa ini, Dek. Kalian mau tunangan?”
Dina menunduk, saat itu Riko datang dengan sigap mendekati Arila kemudian mengambil undangan itu. “Bukan, itu undangan pertunangan kita. Dina hanya salah menulis...”
“Udah cukup Riko!” Dina berteriak sambil meneteskan air mata.
“Kalian... ada apa ini?” Arila mulai merasa ada yang tidak beres. “Sejak kapan ini semua!” Tatap Arila tajam pada Riko dan Dina.
“Kami saling mencintai, Kak. Tidak penting itu sejak kapan yang jelas kami tidak terpisahkan.”
Arila memegang lengan Dina. “Dek, tega sekali kamu sama aku!”
“Riko! kenapa kamu diam?” Arila melempar berkas yang semula akan ditunjukkan pada Riko. Ia berlari keluar sambil terisak-isak.
Riko mengejarnya, “Rila tunggu!”
“Aku enggak mau denger apa-apa dari kamu.” Arila terus berlari, namun Riko begitu mudah menyusulnya. “Rila, kamu harus dengerin aku.”
“Enggak, aku tidak ingin dengar alasan apapun dari kamu.” Arila menutup kedua telinganya.
Riko menatap Arila, lalu menurunkan kedua tangannya. “Aku mencintai Dina. Maafkan aku tidak memberitahumu sejak awal.” Setelah mengatakan itu Riko berbalik berjalan menuju Dina tak memandang Arila sedikit pun.
Ingatan menyakitkan itu masih terlukis jelas. Betapa pecundangnya Riko dan betapa kejamnya Dina. Selama ini Arila menganggap Dina seperti adik kandungnya.
Dari balik pintu sepasang mata nampak sedih melihat Arila yang tidak berhenti menangis. “Bu, saya bawakan makanan untuk Mbak Ila.” Mbok Sum mendekati wanita itu.
“Makasih, Mbok biar nanti saja Rila ingin sendiri sekarang.”
“Saya takut, Bu jangan-jangan ini kutukan...”
“Mbok... jangan bilang begitu. Sudah kita tinggalkan saja Rila”
Handphone Arila berbunyi, rentetan telpon dari Ayu tak dihiraukannya.
Keesokan harinya setelah Ayu berbicara pada ibu Arila. Ia mengemasi barang-barang Arila. Ayu membangunkan Arila. “Cepet bangun kita harus menyelesaikan semuanya.”
“Kita mau ke mana?” Arila mengusap kedua matanya.
Tanpa banyak kata Ayu menarik Arila ke mobil. Arila menurut walau dengan rasa enggan namun ia penasaran dengan rencana sahabatnya.
Dalam perjalanan Arila mulai merasakan ada rencana besar dari Ayu. “Kamu mau ngajak aku ke sana kan?” Ayu mengangguk. “Kamu gila ngajak aku ke sana?” Arila panik.
“Semua berawal dari rumah keluargamu dulu.”
“Tapi aku enggak ingat apapun, kita percuma ke sana. Kita balik aja, Yuk.”
“Ril, ini udah setengah perjalanan.”
“Aku takut, Yuk.”
“Kita coba seminggu di sana, kalau enggak ada jawabannya kita balik ke Jakarta. Gimana?”
Arila bimbang, ia pernah mengalami kejadian traumatis di rumah itu. Itulah alasan mengapa keluarganya pindah ke Jakarta. “Oke kita coba, makasih Yuk...” Arila memeluk sahabatnya.
Keessokan harinya mereka tiba di tempat tujuan. Sepasang sahabat yang dipertemukan saat mereka menginjak sekolah dasar itu berjalan menghampiri seorang lelaki tua yang sedang menyapu halaman rumah. “Mbak Ila?”
“Iya, Pak saya Arila.”
Arila dan Ayu menyalami bapak itu lalu mereka dipersilahkan masuk. Arila tak ingat pada pak Sugiyo. Tapi ibunya sering cerita tentang beliau, pak Sugiyo dianggap seperti keluarga sendiri.
Malam mulai larut, perjalanan panjang dari Jakarta menuju Solo sangat menguras tenaga mereka. Arila melihat sekeliling kamar, ia merasa tidak nyaman. “Ril... cepetan tidur,” Ayu menarik selimut ia terlihat kelelahan.
“Kamu sudah berjanji padaku akan merasakan apa yang aku rasakan. Karena akulah satu-satunya sahabatmu.” Wanita berparas cantik itu memeluk Arila kecil dengan erat. Arila mengangguk tanda setuju.
Waktu bergulir dengan cepat, Arila merasakan cinta yang begitu mendalam dari setiap kekasihnya. Tapi selalu saja berakhir dengan tiba-tiba. Sejak cinta pertama Arila hingga terakhir kali Riko. Arila tak pernah berutung dalam hal percintaan. Semua kisah manis yang berakhir pahit itu terulang jelas di dalam mimpi Arila.
Arila terbangun. “Ayu...” Ia tersadar dan langsung menggoncagkan tubuh sahabatnya.
“Kenapa Ril? Kamu mimpi buruk?”
“Semua tentang perpisahanku dengan Adi, Candra, Hary, Abdi, Erik, Feri, dan Riko. Kemungkinan ada hubungannya dengan masa kecilku.”
“Kamu ingat sesuatu?”
“Aku masih belum ingat, tapi ada petunjuk di mimpiku tadi. Aku harus cari tahu sekarang. Ayo cepat kita pergi.”
Arila mengajak Ayu menemui Pak Sugiyo, kebetulan beliau sedang membersihkan rak di ruang baca. “Pak, saya mau tanya sesuatu.”
Wajah keriput itu memandang Arila. “Mbak Ila mau tanya apa?”
“Saya pengen tahu penyebab saya koma waktu kecil, sebenarnya bagaimana kejadiannya, Pak?”
Pak Sugiyo menghela napas, ia mengambil sesuatu dari tumpukan buku-buku tua yang lusuh. “Mbak Ila ingat ini?”
Arila mengelengkan kepala. Ayu menerima catatan usang itu. Tertulis di halaman depan dua kata, namun hanya kata pertama yang masih bisa terbaca berbunyi Rahasia lalu kata kedua hanya terlihat huruf depannya L selebihnya pudar.
“Rahasia L” baca Ayu.
Malam harinya Arila dan Ayu membaca dan memahami maksud catatan itu. Catatan itu seolah milik Arila tapi mengapa diketerangan adalah Rahasia L. Siapakah L itu? Apakah ia seseorang yang Arila kenal atau catatan itu ditulis oleh orang lain. Ingatan Arila yang hilang membuat ini semua sulit. Di dalam catatan itu terdapat gambar-gambar wanita dan seorang anak kecil tapi dengan bentuk gambar yang buruk. “Bisa jadi ini kamu yang gambar waktu kecil.” Ayu menebak sambil membolak-balik catatan itu.
“Semua gambarnya sama selalu anak kecil dan seorang wanita cuma kegiatan mereka yang berbeda-beda. Kreatif banget kamu waktu kecil, kalau yang anak ini kamu pasti wanita ini ibumu.” Ayu terus membolak-balik catatan.
Arila terdiam menyadari sesuatu. “Ibuku waktu kecil enggak pernah nemenin aku main, karena beliau kerja.”
“Terus siapa ini? Apa mungkin emban yang momong kamu?”
“Kata mbok Sum aku selalu main sendiri.”Arila memandang Ayu, “Kata beliau aku punya teman halusinasi, beliau selalu mengatakan kandasnya hubunganku karena kutukan.”
“Kamu percaya hal itu?” Selidik Ayu.
“Aku enggak percaya sama kutukan, tapi dengan adanya buku aku yakin punya teman halusinasi. Namun keduanya bukan berarti berhubungan.” Arila mulai ragu, terhadap mimpinya semalam, ia merebahkan diri ke kasur.
“Jangan tidur donk, belum selesai ngelihat catatanya.” Rengek Ayu.
Hari keempat di rumah keluarga Arila, mereka hampir putus asa tidak menemukan apapun. Mereka menyusuri penjuru rumah barangkali menemukan sesuatu. Ayu sering membolak-balik catatan tua itu, tapi nihil. Akhirnya Ayu menyerah dan meletakkan catatan itu di meja. Tiba-tiba angin kencang entah dari mana datang membolak-balik catatan itu. Arila dan Ayu saling pandang. Setelah cukup lama catatan itu membolak-balik halamannnya sendiri, akhirnya ia berhenti di salah satu halaman. Arila mengambil catatan itu, “pasti ada sesuatu di sini.” Ternyata ada 2 lembar halaman yang merekat. Arila membukanya perlahan. Catatan yang hampir pudar itu terbuka. Ayu yang semula tercengang mendekati Arila dan membantu membaca catatan itu.
  “Di kotak tua pojok ruang baca.” Ayu mengejanya.
“Lestari.” Arila meneruskan.
Tanpa berpikir lebih mereka langsung bergegas menuju ruang baca, benar di sana ada kotak tua yang besar. Mereka memeriksa kotak tua itu namun digembok. Arila memanggil pak Sugiyo meminta beliau membuka paksa kotak itu. Pak Sugiyo mengayunkan palu berulang kali namun gembok itu tak kunjung lepas. Hingga peluh mengucur di kening beliau.
“Sudah cukup, Pak. Sepertinya kotak ini memang tidak bisa terbuka.” Arila menggigit jari menerka apa yang ada di dalam kotak itu.
Pak Sugiyo menghapus peluhnya, “sampai lelah bapak endak buka-buka.”
Mereka terus berpikir keras bagaimana cara membuka kotak itu, sedangkan mereka tidak memiliki kuncinya.
Dalam gelap malam Arila berjalan dari kamarnya meninggalkan Ayu yang terlelap. Ia berjalan perlahan mengikuti seorang wanita berparas cantik berpakaian layaknya manten jawa. Pakaiannya hitam dihiasi dengan benang keemasan. Kain jarik berwarna coklat menambah anggun penampilannya. Namun rambutnya dibiarkan terurai tanpa sanggul.
Wanita itu memberikan isyarat pada Arila untuk membuka pintu ruang baca. Arila menurut.
Ayu kalang kabut mendapati Arila tak berada di sampingnya. Ayu membuka jendela kamar berteriak memanggil pak Sugiyo yang berada di halaman.
Pak Sugiyo panik lalu menuju kamar Arila. Ayu mondar-mandir ketakutan. “Pak... Arila tiba-tiba tidak ada.”
“Sudah dicari dalam rumah?”
“Belum, Pak. Saya takut sendirian, kemarin tiba-tiba buku catatan yang bapak kasih mbolak-balik sendiri dan kotak tua yang bapak palu tidak rusak sama sekali.” Ayu makin ketakutan.
“Sudah tidak apa-apa, kita cari mbak Ila dulu.”
Mereka bergegas mencari Arila. Satu persatu ruangan di rumah itu diperiksa, mereka akhirnya menemukan Arila tidur di samping kotak tua itu sambil memeluk sebuah gulungan kertas panjang.
“Rila...”
“Mbak Ila...”
Ayu dan pak Sugiyo membangunkan Arila.
Mata Arila terbelalak melihat Ayu dan Pak Sugiyo, sebuah malam panjang telah ia lewati bersama Lestari.
Setelah Arila membuka pintu ruang baca, Lestari masuk ke ruangan itu kemudian meringkuk sambil menangis di dekat kotak tua. Arila mendekatinya, bermaksud ingin menenangkannya. Ketika tangan Arila mendekat ke pundaknya tiba-tiba ia menunjukkan wajahnya pada Arila. Arila kaget tapi ia tak bisa berteriak seolah lidahnya terkunci. Lestari mengeluarkan air mata darah.
Namun rasa takut Arila terkalahkan oleh rasa ibanya. Arila memberikan isyarat pada wanita itu untuk berhenti menangis.
Lestari menunjuk ventilasi pintu, “kunci” ucapnya. Arila mengerti maksud kunci yang diucapkannya, ia memindahkan sebuah kursi untuk menjadi pijakan. Ia meraba-raba sudut ventilasi, benar di sana terdapat sebuah kunci. Kemudian Arila bergegas membuka kotak itu dengan kunci tersebut. Terdapat sebuah gulungan kertas yang panjang, ternyata itu sebuah lukisan.
Lestari tersenyum pada Arila, “tolong aku segera..” lalu tiba-tiba tubuhnya terbakar. Arila panik, pemandangan mengerikan terjadi tubuh Lestari mengelupas ia berteriak kesakitan.
“Setelah itu aku enggak ingat apa yang terjadi.” Arila memeluk Ayu sambil menangis terisak-isak.
“Mungkin kamu cuma mimpi, tenang yaa...”
“Engga, semua kelihatan nyata. Lihat aku benar-benar mindahin kursi dan sekarang aku megang lukisan ini.”
“Lebih baik mbak Ila kembali ke Jakarta, saya takut terjadi sesuatu yang buruk.” Saran pak Sugiyo.
Ayu mulai mengemasi barang-barang mereka, Arila yang baru saja keluar dari kamar mandi segera mencegah sahabatnya. “Kamu ngapain?” Ayu memeluk sahabatnya. “Aku salah ngajak kamu ke sini, maaf...”
“Kita enggak bisa pulang sekarang.” Arila mengajak Ayu duduk di kasur.
“Aku takut terjadi sesuatu sama kamu, Ril... Bisa saja wanita itu nyakitin kamu.”
Arila menggelengkan kepala. “Aku rasa dia hanya minta tolong sama aku,” Arila membuka lukisan itu. “Lihat dia cantik, ada tanda di bahunya.”
“Dia perempuan bahu laweyan.” Ayu memegang tangan Arila. “Menurut cerita perempuan bahu laweyan sangat jahat...”
“Yuk, itu hanya mitos.” Arila melepaskan tangan Ayu, ia meraba wajah Lestari. “Katanya perempuan bahu laweyan sial dalam hal percintaan. Sedangkan aku bukan bahu laweyan pun juga selalu gagal.”
Ayu menepuk-nepuk pundak Arila. “Aku harus nolong dia, apapun itu.” Ayu mengangguk tanda setuju.
Pak Sugiyo mengetuk pintu kamar. “Mbak mobilnya sudah siap.”
“Kita enggak jadi pulang sekarang, Pak.” Kata Arila sambil memegang lukisan itu.
Pak Sugiyo kaget seakan merasa tak nyaman, “Bapak tahu di kotak itu isinya lukisan ini?”
“Endak, Mbak...” Pak Sugiyo mulai melangkah dari posisi sebelumnya. “Saya baru ingat ada janji dengan kepala Desa malam ini.”
“Ya sudah, Pak. Nanti biar saya yang masukin mobilnya.”
Pak Sugiyo memberikan isyarat pamit, kemudian beliau bergegas.
Arila memutuskan untuk menghubungi ibunya. “Nak... kenapa baru menelepon ibu?” suara ibunya terdengar khawatir.
“Maaf bu... Rila nenangin diri dulu.”
“Baik-baik aja kan di sana?” Arila terdiam. “Sayang...?”
Arila tak kuasa bercerita pada ibunya. Ia takut ibunya terlalu khawatir. “Baik kok, Bu...” Jawab Arila perlahan.
Ibunya menghela napas, “syukurlah...”
“Ibu sehat kan?”
“Ibu baik, Nak.” Jawab ibunya terdengar sumringah.
“Ibu tahu dulu Rila suka nulis dan gambar?”
Tak ada jawaban dari ibunya, mereka terdiam cukup lama. “Iya, Nak kamu dulu suka gambar teman halusinasimu namanya Lestari.”
Arila terperanjat mendengar jawaban ibunya, “Kenapa ibu engga cerita tentang itu selama ini?”
“Ibu takut hal itu membuat kamu bersikeras untuk mengingat.”
“Apa terjadi sesuatu?” Selidik ibunya.
Arila menenangkan ibunya yang terdengar mulai panik. “Enggak terjadi hal buruk, Bu. Kita nemuin buku catatan itu dan isinya lumayan lucu. Ternyata aku dulu kreatif ya, Bu...” Arila berusaha mencairkan suasana.
“Iya, sebelum kecelakaan kamu paling seneng gambar sama nulis. Jadi mbok Sum enggak pernah kerepotan momong kamu.” Arila tersenyum karena ia tak ingat apapun. “Tapi setelah kamu bangun dari koma, semua kebiasaan itu ilang gitu aja sampai sekarang.” Ibunya menambahkan.
“Kalau kamu sudah tenang cepat pulang ya, Nak... Ibu rindu sama kamu.” Mendengar permintaan ibunya, Arila menjawab manja. “Siap... Ibuku sayang...”
Arila mengakhiri percakapan dengan ibunya. Sebelum berangkat ke Solo Ayu meminta izin untuk mengajak Arila menenangkan diri di rumah keluarganya yang dulu, dengan alasan mencari udara segar di sana sehingga banyak energi positif yang dapat membuat Arila lebih santai. Ayu tak memberitahu tujuan lain untuk mengungkap semua misteri masa kecil Arila yang selama ini selalu mengganggu pikirannya.
Arila sering bercerita pada Ayu tentang kecurigaannya terhadap penyebab kecelakaan waktu ia kecil. Saat itu ia berumur 6 tahun, menurut cerita dari keluarganya ia jatuh dari lantai atas rumah ini. Arila jatuh saat menuruni tangga. Keluarganya menduga saat itu Arila sedang menggambar seperti biasa di lantai atas, lalu ia terjatuh karena terpeleset. Entah apa yang membuat Arila tidak berhati-hati saat itu. Kebetulan saat itu rumah sedang tidak ada orang lain, mbok Sum dan ibunya pergi ke pasar sedangkan pak Sugiyo sedang memanen singkong untuk dimasak. Arila ditemukan tak sadarkan diri berlumuran darah di lantai bawah.
Arila memandang lantai atas dari bawah, ia memandang tangga panjang yang menukik tajam. “Mbak...” Pak Sugiyo menegur Arila.
Arila menoleh, sedikit terkejut. “Mbak Ila ingat sesuatu?”
Arila menggeleng, “Kepala saya sakit.” Ia memegang kepala bagian belakangnya. Pak Sugiyo lalu menyuruh Arila beristirahat. Arila menuruti beliau, ia menyusul Ayu yang sedang tidur siang di kamar.
Sudah tujuh hari mereka di sini tapi belum bisa memecahkan misteri. Ayu mondar-mandir mencari cara supaya mereka bisa bertemu dengan arwah Lestari.
“Gimana kalau nyanyi Lingsir Wengi?” usul Ayu tiba-tiba. “Ah enggak usah ngaco.” Arila tak menyetujuinya.
“Tapi di film-film itu ampuh, Ril...” Ayu duduk disebelah Arila.
“Aku rasa ada cara lain. Seandainya aku ingat tentang Lestari semuanya enggak akan serumit ini.” Arila menghela napas. “Ini hari terakhir kita di sini.”
“Gimana kalau kita perpanjang lagi?” tawar Ayu. “Kamu izin dulu sama ibumu. Kita di sini 3 hari atau satu minggu lagi. Kalau semua memang tidak terkuak, kita balik ke Jakarta.”
Arila memainkan ponselnya. “Tapi skripsi kita gimana?”
“Enggak masalah yang penting kita selalu bersama.” Ayu tertawa. Arila memeluk sahabatnya manja. Mereka tertawa dan saling ledek.
Arila teringat sesuatu, “Oh ya, aku belum nanya ke ibu soal lukisan Lestari.”
Arila cepat-cepat menghubungi ibunya. Tak lama ibunya menganggkat panggilan dari Arila. “Speaker donk, Ril...” Pinta Ayu.
“Bu, kita masih kerasan di sini. Boleh enggak tiga atau tujuh hari lagi...”
“Boleh sayang,” ibunya menjawab cepat sebelum Arila menyelesaikan permintaannya.
“Kamu jangan cuma di rumah terus, coba main ke danau tempat kesukaan kamu dulu.”
Arila tertawa, “Iya Bu, Arila dan Ayu enggak ke mana-mana. Kita sambil ngerjain skripsi soalnya.”
“Bohong itu, Bu. Kita di sini kerjaannya cuma tidur.” Ayu menyeletuk.
“Wah... kalian ini.” Ibu Arila membuat suaranya seolah marah. Arila dan Ayu tertawa.
“Keenakan ya kalian di sana...” Godanya lagi.
Mereka saling menggoda satu sama lain hingga akhirnya Arila mengajukan sebuah pertanyaan penting. “Ibu tahu lukisan yang ada di kotak tua pojok ruang baca?”
“Maksud kamu lukisan teman hayalanmu yang namanya Lestari?”
“Iya, Bu.” Jawab Arila dan Ayu bersamaan. “Pasti pak Sugiyo yang ngasih tahu ya... waktu itu kuncinya ditaruh di ventilasi pintu sama beliau.”
Arila dan Ayu saling pandang.
Setelah percakapan dengan ibu Arila mereka mengawasi pak Sugiyo. Tak ada hal yang mencurigakan dari beliau. Semua kegiatan beliau dari pagi hingga malam normal-normal saja.
Pagi ini mereka pergi ke danau yang dimaksud ibu Arila tempo hari. Mereka berjalan kaki menuju tempat itu karena letaknya yang tak jauh dari rumah.
“Ril, kamu lihat ekspresi pak Sugiyo waktu kita pamit mau ke danau. Aneh banget tahu. Beliau kayak kaget geragapan gitu.” Kata Ayu sambil memainkan dedaunan yang ia petik di jalan.
“Entah, Yuk... mungkin beliau kecapekan.” Jawab Arila pendek. Ia tak ingin berspekulasi tentang sikap pak Sugiyo.
Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Udara di tepi danau sangat sejuk, air danau jernih sehingga banyak ikan cantik terlihat ketika berenang kesana-kemari.
Mereka asyik bermain air dan mengumpulkan bunga-bunga yang tumbuh di sana, terik matahari mulai menyengat. Mereka memutuskan untuk berteduh di sebuah pohon rindang.
Arila melihat bunga teratai di pinggir kolam, ia terpesona. “Yuk, aku pengen petik bunga itu.” Tunjuk Arila.
Ayu melihat sekilas kemudian mengacungkan jempolnya tanda mengakui kecantikan bunga itu.
Bunga teratai putih bersemu merah nampak berseri-seri di antara terik matahari. Arila dengan hati-hati memetiknya. Ketika ia merunduk terlihat wajahnya di air, namun tiba-tiba bayangan wajahnya berganti dengan wajah Lestari. Wanita itu mengisyaratkan permintaan tolong pada Arila. Spontan Arila berlari sambil berteriak. “Ayu...!”
Ayu yang sedang bersantai di bawah pohon sontak menuju Arila.
“Aku lihat wajah Lestari di air.” Tunjuk Arila.
“Lalu apa yang terjadi?”
“Dia minta tolong lagi, tapi tidak memberitahu aku harus bagaimana.” Arila mengatur  napas. “Kemungkinan tempat ini ada kaitannya dengan Lestari.”
“Kita balik ke rumah yaa...” Ayu menuntun Arila.
“Yuk, di mana ponselku?”
“Di dalam tas bawah pohon.”
Arila bergegas mengambil ponselnya lalu menghubungi ibunya. Tak lama terdengar suara ibunya. “Iya, sayang...”
“Bu, di mana aku mendapatkan lukisan Lestari?” Arila langsung menanyakan inti pertanyaannya.
“Waktu itu ada program penaman pohon di danau, ayahmu sedang libur kerja ikut kerja bakti. Tiba-tiba ayahmu pulang membawa kotak berisi lukisan itu. Katanya tidak sengaja menemukan waktu menggali...”
“Apa ibu tahu siapa pemilik lukisan itu?”
“Enggak, Nak... Tapi kelihatannya lukisan itu baru berusia sekitar 20 tahun.”
“Bu...” Ucap Arila perlahan ragu-ragu ingin menceritakan semua pada ibunya.
“Iya, Nak...”
“Aku rindu sama ibu dan ayah...”
Ibunya tersenyum. “Besuk ayahmu pulang ke tanah air.”
“Syukurlah, Bu...”
“Kamu cepet balik ke Jakarta biar bisa lama ketemu ayahmu.”
“Iya, Bu.”
Malam ini mereka memutuskan untuk beristirahat, agar besuk pagi bisa menentukan langkah selanjutnya.”
Keesokan harinya mereka tak menemukan lukisan Lestari di tempatnya. Mereka juga tak menemukan pak Sugiyo.
Mereka menyusuri halaman berharap bertemu pak Sugiyo, tiba-tiba bapak Kepala Desa menghampiri mereka. Arila menyapa beliau kemudian Ayu ikut menyalaminya.
Mata pak Kepala Desa nanar memandangi sekitar rumah. “Kenapa, Pak?” Tanya Arila.
Beliau tersenyum, “Bagaimana kuliahmu, Nak?’
“Lancar, Pak...” Jawab Arila.
“Cepat kembali ke Jakarta, jangan melakukan hal yang tidak seharusnya.”
Setelah mengatakan itu pak Kepala Desa meninggalkan mereka berdua tanpa berpamitan. “Maksudnya...” Ayu mengernyitkan kening.
Sore harinya pak Sugiyo kembali ke rumah dengan membawa cangkul dan karung. Arila langsung menghampirinya. “Bapak dari mana saja?”
Beliau membuka isi karung kemudian menunjukannya pada Arila. “Bapak manen singkong kesukaan mbak Ila...” Senyumnya mengembang.
“Bapak tahu lukisan Lestari di mana sekarang?”
“Bukankah di kamar mbak Ila?” Wajah keriput itu menampakkan ketidaktahuan. Perlahan beliau mengeluarkan singkong satu persatu. “Mbak Ila mau Bapak bikinkan kolak? Dicampur dengan pisang sangat enak.” Beliau menawarkan. Arila mengangguk. “Iya, Pak terima kasih.”
Arila dan Ayu berunding malam ini mereka akan menyelidiki sesuatu. Mereka mencium gelagat yang mencurigakan dari pak Sugiyo dan pak Kepala Desa.
Setelah menghabiskan kolak buatan pak Sugiyo dan memastikan beliau sudah tidur nyenyak mereka mengendap-endap keluar. Arila membawa buku catatan masa kecilnya dan cangkul kemudian Ayu membawa senter yang akan menjadi penerangan mereka menuju danau.
Udara dingin menusuk kulit mereka meski telah terbalut dengan baju hangat. Suara jangkrik dan kodok bersahutan menambah kesunyian malam. Di area danau jarang warga sekitar yang melintas karena posisinya yang berada di pinggir desa.
Mereka menyisir area danau, barangkali menemukan bekas galian. Sekitar 3 jam mereka mencari tapi nihil. “Ril coba telepon ayah kamu mungkin pak Sugiyo memendam lukisan itu di tempat yang sama.”
Arila memeriksa ponselnya, “udah pukul 12 malam semoga ayah belum tidur.”
Arila menelepon ponsel ayahnya berkali-kali tapi tak dianggkat, kemudian ia menghubungi telepon rumah.  Tapi nihil tidak ada jawaban.
“Coba ke nomor ibu kamu.” Saran Ayu.
Setelah dua kali melakukan panggilan ada jawaban. “Iya, Nak...” Jawab ibunya.
“Maaf, Bu malam-malam begini nelpon. Ada masalah penting yang perlu aku tanyakan sama ayah.”
“Tentang apa?”
“Di mana tepatnya lokasi ditanamnya kotak yang berisi lukisan Lestari?”
“Ada apa, Nak?” Tanya ibunya dengan nada curiga.
“Arwah Lestari minta tolong sama aku, Bu. Ada banyak keganjilan tentang pak Sugiyo juga.”
“Apa maksud kamu? Arwah?” Ibunya tak mengerti maksud Arila.
Ayu memberikan isyarat kepada Arila ia yang akan melanjutkan percakapan dengan ibunya. “Maaf, Bu. Kita harus cepat, sekarang saya dan Arila ada di danau. Apapun yang terjadi nanti, setidaknya bisa menguak misteri yang belum terselesaikan.”
Jantung ibu Arila berdegub kencang. “Apa yang kalian lakukan di situ...” Tanyanya sambil terbata-bata. “Bu, kita engga bisa cerita semuanya sekarang...” Jawab Arila perlahan.
Ibu Arila menggoncang-goncangkan tubuh suaminya. “Yah... bangun.”
Ayah Arila mengusap kedua matanya, sebelum sempat ia bertanya istrinya langsung menyodorkan ponsel kepadanya. “Rila.”
“Ada apa, Nak?”
“Ayah, Rila engga bisa cerita sekarang. Arila sekarang butuh ayah ngasih tahu tepatnya lokasi galian ditemukannya lukisan Lestari, di mana itu Yah?”
Ayah Arila terdiam sejenak. Ia kaget tiba-tiba Arila mengajukan pertanyaan tak terduga. “Itu sudah lama sekali...”
“Ayo Yah ingat-ingat.” Ibu Arila harap-harap cemas.
“Waktu itu ada pohon beringin besar...” Ayu menyenter ke segala penjuru mencari sosok pohon beringin. “Engga ada pohon beringin, Yah.”
“Mungkin sudah ditebang, Nak. Coba kalian cari bekas tebangan pohon ke arah selatan danau.”
Arila langsung menarik tangan Ayu bergegas menemukan tempat itu. Tiba-tiba sambungan telepon terputus handphone Arila kehabisan daya.
Mereka melangkahkan kaki sesuai petunjuk ayah Arila. Benar sekitar sepuluh meter dari danau terdapat bekas pohon yang akarnya masih tertanam. Ayu langung menyenter area tersebut mencari bekas galian.
“Ketemu!” Teriaknya.
Ada bekas galian yang memanjang, Arila cepat-cepat mengayunkan cangkulnya. Tak terlalu sulit untuk menggalinya karena bekasnya masih belum menyatu dengan tanah lain. Akhirnya terlihat gulungan lukisan Lestari.
Arila membuka lukisan itu, tiba-tiba dari arah belakang ada sosok yang memukul Arila. Spontan Arila melemparkan lukisan itu pada Ayu. “Lari!” Pekiknya sebelum pingsan.
Ayu lari sekuat tenaga, sosok hitam itu makin gencar mengejarnya. Ia makin erat memeluk gulungan lukisan itu tak berani menoleh sama sekali. Namun malang kaki Ayu tersangkut akar ia jatuh. Sosok hitam itu tertawa lalu ia mengayunkan kayu yang dipegangnya. Ayunan kayu itu tak sampai mengenai kepala Ayu karena tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. “Berikan lukisan itu!”
“Ba..baik...” Ia mengulurkan lukisan itu. Namun serta merta ia melakukan tendangan tepat di area kelemahan laki-laki. Orang itu mengaduh kesakitan. Ayu lalu menambahnya dengan pukulan senter. Hingga senter itu rusak. Lalu ia berlari mencari tempat persembunyian.
Ayu menoleh ke belakang, sosok hitam itu masih belum mengejarnya. “Huff... Engga sia-sia pernah ikut latihan karate.” Ucapnya pada diri sendiri. Ia memandang sekitar. Untung saja tidak terlalu gelap tepat bulan purnama. Ia menemukan tempat persembunyian di antara pohon pisang.
Setelah mengatur napas Ayu membuka lukisan itu, dengan bantuan penerangan ponselnya ia menelusuri setiap detail lukisan. Tidak ada hal yang bisa dijadikan petunjuk. Kemudian terpikir untuk melihat bagian belakang lukisan. Karena selama ini mereka tak pernah memeriksanya. Bagian belakang lukisan kotor dan sedikit terkoyak. Seharusnya jika bagian belakang terkoyak juga memengaruhi tekstur bagian depan, pikir Ayu. Ia memeriksa ketebalan lukisan tersebut. Dan ternyata ada kertas yang melapisi bagian belakang. Perlahan Ayu menyingkap lapisan belakang itu.
Arila terbangun di tepi danau pada suatu pagi yang cerah. Terlihat anak kecil yang sedang asyik menggambar. Arila mendekatinya namun anak itu tak mengetahui keberadaannya. Anak itu terus menggambar dengan tekun. Mata Arila terbelalak melihat apa yang anak itu gambar. Tergambar sebuah prosesi pembunuhan yang kejam. Dimulai ketika seorang perempuan diikat pada sebuah pohon yang besar, lalu seorang laki-laki menyiramnya dengan sesuatu kemudian seorang pria lainnya menyulut api.  Gambar selanjutnya wanita itu terbakar hingga tali yang mengikatnya ikut terbakar pula. Ia berjalan menuju danau namun tak mampu. Ia merangkak menuju danau dengan api yang terus melalap tubuhnya. Dua orang laki-laki itu hanya memandangnya. Wanita itu kemudian berhasil masuk ke dalam danau namun ia tak muncul lagi. Selanjutnya dua laki-laki tadi menebang pohon itu dan memindahkannya untuk menahan air danau. Kemudian mereka memasukkan mayat wanita tadi ke dalam peti lalu menggali bagian danau. Setelah cukup dalam mereka memasukkan peti itu. Lalu mereka menumpangi bagian itu dengan kayu besar yang semula digunakan untuk menahan air. Gambar selanjutnya terlihat mereka membersihkan tempat itu.
Arila mengamati gambar itu dengan air mata mengalir. “Lestari...” Tangisnya.
“Lestari.” Ucap anak itu pula. “Aku akan memberitahu ibu dan ayah biar kamu bisa tenang.”
Kemudian anak itu menggulung lukisan tersebut dan membereskan peralatannya lalu meninggalkan danau. Arila mengikutinya.
Di jalan anak itu berpapasan dengan seorang laki-laki. Orang itu tersenyum menghampirinya, “Boleh bapak lihat lukisannya.” Anak itu menggelengkan kepala dengan ketakutan. Orang itu terus membujuknya.
Akhirnya anak itu memberikannya, orang itu tersenyum melihat lukisan Lestari dan kemudian melihat bagian belakangnya. Ia kaget bukan main. Namun ia tersenyum pada Arila kecil. Ia mengembalikan lukisan itu dan membiarkan Arila kecil pergi.
Arila masih menyaksikan semuanya kejadian dulu yang berulang. Setelah berpikir keras Arila menyadari orang itu adalah pak Kepala Desa.
Anak itu berjalan menuju rumah, ia memanggil ibunya setelah sampai. “Oh iya... ibu ke pasar sama mbok Sum.” Ia lalu menuju lantai atas melalui tangga. “Jangan ke atas!” Teriak Arila. Namun anak itu tak mendengarnya sama sekali.
Sesampainya di lantai atas anak itu tidur di sofa sambil memeluk lukisan itu. Arila mondar-mandir di sekitarnya. “Apa yang terjadi selanjutnya...”
Selang satu jam datang sosok serba hitam mendekati anak itu. Arila berusaha memukulnya. Namun tidak berefek apapun.
Arila kecil terbangun karena merasa ada yang menarik lukisan yang dipeluknya. Ia menjerit berlari. Orang itu berhasil mengejarnya dan menarik lukisan itu lagi di dekat tangga. Tubuh kecilnya tak sebanding dengan sosok hitam itu. Ia terpelanting jatuh ke bawah. “Tidak!!!” Arila histeris menyaksikan semua itu. Sosok hitam itu menuruni tangga. Arila mengejarnya memukul-mukulnya dengan histeris. Namun orang itu sama sekali tidak merasakan efek apapun. Ia melihat Arila kecil yang terbaring berlumuran darah. Sempat ia ingin menyentuhnya, namun ia mengurungkan niatnya
Sosok hitam itu berlari dengan membawa lukisan Lestari. Arila tak kuasa melihat sosok kecilnya berlumuran darah namun ia tak bisa berbuat apapun. Arila memutuskan untuk mengejar perginya sosok hitam itu.
Sosok hitam itu menghentikan langkahnya di suatu rumah. “Rumah Kepala Desa.” Ucap Arila dengan amarah berapi-api. “Jadi orang ini dia!” Tapi hanya ia sendiri yang mendengarnya. Arila terus mengamati gerak-gerik orang itu. Ia terlihat kebingungan ingin mengapakan lukisan itu. Berkali-kali ia akan membakarnya tapi tidak jadi.
Tiba-tiba pintu rumah dibuka secara kasar. “Suryana!” Teriak orang itu dengan marah. Arila mengenalinya orang itu adalah pak Sugiyo. “Apa kamu datang ke rumah tadi?” Tanyanya dengan kasar sambil menarik kerah baju Suryana.
“Aku panik Pakdhe! Anak itu jatuh sendiri.” Belanya.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang. Sebaiknya kita mengaku saja pada polisi.” Pak Sugiyo melepaskan cengkramannya.
“Wanita itu pantas mati Pakdhe, kenapa kita harus melaporkan diri?” Tanyanya tak kalah lantang.
Pak Sugiyo duduk terlihat menenangkan dirinya, duduk di kursi sambil mengusap-usap keningnya. “Ingat, bapakku dulu kecantol dengan wanita itu. Lalu setiap hari ia menyiksa ibuku agar mengizinkan ia kawin lagi. Tidak cukup sampai disitu, karena ibuku begitu gigih bertahan ketika disiksa lalu bapakku menyiksaku. Ibuku tidak tega melihat anaknya disiksa setiap hari akhirnya ibu mengizinkan bapak mengawani wanita iblis itu. Setelah pernikahan berlangsung, bapakku mati! Lalu ibuku dengan rasa bersalahnya menyusul bapak gantung diri!”
“Sudah...!” Teriak pak Sugiyo.
“Pakdhe! Apa Pakdhe juga tidak ingat bagaimana wanita itu menggoda adikmu.” Tunjuk Suryana pada lukisan Lestari. “Adikmu seorang pelukis handal, pujaan para gadis. Tapi bagaimana mungkin ia lebih memilih mengawini janda lalu mati. Bahkan dia pun melukis wanita mala petaka ini!”
Pak Sugiyo bangkit dari tempat duduknya, beliau berniat meninggalkan tempat itu. “Akan kubakar lukisan itu!” Ancam Suryana.
Pak Sugiyo berbalik memandangnya tajam. Pak Sugiyo meneteskan air mata. “Mungkin adikku telah salah memilih perempuan iblis sebagai istrinya. Tapi lukisan ini tidak bersalah. Seharusnya adikku sudah menjadi pelukis sukses...”
“Betapa jahat wanita itu Pakdhe!” Bakar Suryana lagi. Memancing kemarahan pak Sugiyo.
“Lukisan ini tidak boleh dibakar ataupun dihilangkan.” Kata pak Sugiyo kemudian.
“Kenapa Pakdhe? Bukankah lebih baik kita menyimpan lukisan ini atau memendamnya di tempat semula?” Tanya Suryana tak mengerti.
“Suryana, kamu tahu ini barang kesayangan mbak Ila. Kalau sampai ini hilang keluarganya pasti akan mencari tahu. Cepat atau lambat kamu akan tertangkap dan semua yang kita lakukan di masa lalu akan terkuak.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Tunggu di sini.” Pak Sugiyo meninggalkan tempat itu. Suryana menunggunya dengan cemas.
Setelah beberapa saat pak Sugiyo kembali membawa kertas putih yang lebar dan beberapa peralatan. “Kita rekatkan bagian belakang lukisan yang telah digambari dengan kertas ini.” Suryana mengangguk. Mereka bekerjasama merekatkan lukisan itu.
Arila terbangun dari mimpi panjangnya, ia meraba-raba bagian belakang kepalanya yang sedikit berdarah. Ia bangun dan duduk. Namun ada sosok lain di sampingnya. “Lestari.” Ucap Arila.
Masih dengan penampakan yang sama dengan sebelumnya. Ia memakai pakaian pengantin wanita dan rambut panjang yang kusut. Lestari mengangguk.
“Apa kamu yang membunuh adik pak Sugiyo dan ayah pak Kepala Desa Suryana?” Lestari menggeleng.
“Di bawah ranjangmu.” Ucap Lestari singkat. Lalu hal mengerikan terjadi lagi sama persis saat di ruang baca. Setelah tubuh Lestari terbakar tak tersisa Arila langsung berlari meninggalkan danau.
“Arila!” Teriak sesorang. Orang itu mendekati Arila lalu memeluknya. “Ayu, kamu engga apa-apa?”
“Aku baik-baik aja.”
“Kita harus cepat menemukan petujuk terakhir.”
“Kita ke mana?”
“Ke rumah.”
Mereka bergegas memeriksa tempat yang ditunjukkan Lestari. Setelah beberapa saat mereka menemukan kotak kecil yang tak terkunci tepat di pojok ranjang. Di dalamnya terdapat sebuah buku harian.
“Ini pasti milik Lestari.” Ucap Arila.
“Apa yang terjadi saat kamu pingsan.” Tanya Ayu.
  Arila menceritakan semuanya pada Ayu. Setelah itu mereka membaca lembar demi lembar buku harian Lestari.
Tertulis dalam buku harian Lestari pada salah satu halaman. “Jika aku bisa memilih aku tidak ingin dilahirkan dengan paras yang cantik dan tubuh yang elok. Aku ingin menjadi wanita biasa, wanita jelek sekalipun tidak masalah. Asal tanda di bahuku tidak ikut mewarnai kulitku. Telah berkali-kali aku dituduh wanita iblis. Pak Sugiyo dan anak tiriku Suryana andai mereka tahu penyebab kematian orang terkasihnya. Mas Purwanto yang pandai melukis dia sejak lama menderita penyakit jantung namun ia tak tega mengatakan pada keluarganya. Hanya padaku ia mampu menumpahkan segala beban hidupnya. Hingga suatu ketika ajal menjemputnya tepat di pangkuanku. Aku sungguh mencintaimu, Mas... Aku rela menanggung semua ini. Begitu dalam cintaku padamu hingga ketika seorang lelaki mendekatiku lagi aku tidak mau menikah lagi. Lagi pula dia sudah beristri. Namun dia selalu mengancamku jika aku tidak mau dikawininya ia akan terus menyiksa anak dan istrinya. Suatu ketika aku melihat lebam di wajah Suryana anaknya, rasa iba menghantuiku. Akhirnya, aku memutuskan untuk menikah dengannya. Namun semua semakin menjadi mala petaka, Mas... Kesukaanya berjudi dan berhutang membuat ia mempunyai musuh di sana-sini. Hingga suatu malam musuhnya menyelinap ke kamar kami lalu membunuhnya. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri saat ia meninggal ditusuk sebuah pisau. Suryana yang malang, kemudian ibunya gantung diri karena gila menghadapi kenyataan yang begitu pedih. Aku bersalah kepada mereka. Aku pantas di hukum.”
Ayam mulai berkokok, tanda fajar mulai hadir. Akhirnya mereka menyelesaikan membaca seluruh curahan hati Lestari.
“Ternyata Lestari hanya korban. Bahkan hatinya sangat baik.” Ayu menyimpulkan. “Sekarang kita harus memindahkan jasad Lestari ke tempat yang lebih layak.” Arila tersenyum. Seluruh misteri yang menghantui hidupnya telah terkuak.
“Tapi aneh si Suryana Kepala Desa kok udah engga ngejar kita lagi”
Ayu tersenyum nakal. “Aku habis mempraktekan jurus bela diri. Inget kan?” Ia tertawa terbahak-bahak. “Apa terlalu keras ya tendanganku sampai ia tidak bisa bangun?”
Arila mengacungkan jempol padanya. “Kita harus menunjukkan ini pada pak Sugiyo.” Ayu mengangguk.
Mereka mencari pak Sugiyo tapi tak menemukan di mana pun. Tiba-tiba pintu diketuk. Arila membukanya, “Nak...” Ibunya langsung menangis memeluknya. “Kamu baik-baik saja, Nak?” Tanya ayahnya.
“Kenapa Ibu dan Ayah di sini?”
“Kami baru saja datang dari Jakarta, cepat kita harus ke kantor polisi sekarang.”
“Kenapa, Bu?” Tanya Ayu.
“Nanti kami jelaskan diperjalanan.”
Ternyata pak Sugiyo tadi malam menyerahkan diri ke kantor polisi. Sebelumnya beliau menelpon ke Jakarta dan menceritakan semuanya. “Beliau menyesal dan takut pak Suryana menyakiti kalian.” Ibunya menjelaskan.
Pak Sugiyo menunduk dihadapan Arila dan Ayu. Wajah keriputnya meneteskan air mata. Arila menyodorkan buku harian Lestari. “Pak, Lestari bukan wanita iblis...”
“Bapak sudah baca, lima tahun lalu Bapak menemukannya di bawah ranjang mbak Ila.” Akunya, sambil mengusap air mata.
“Bapak sudah memberitahukan hal itu pula pada Suryana. Tapi dia tidak mau dipenjara. Bapak sangat menyesal... seandainya lima tahun lalu Bapak sudah melaporkan diri dan juga Suryana dia tidak akan sampai melukai mbak Ila lagi.”
Pak Sugiyo harus menerima imbas dari kejahatannya di masa lalu, beliau harus rela menghabiskan masa tuanya dibalik jeruji besi.
Menurut informasi dari polisi pak Suryana menjadi gila ia seperti melihat perempuan yang terbakar ingin mencekiknya semalam waktu tertangkap di pinggir danau.
Hari itu pula dilakukan penggalian pada area danau sesuai petunjuk Arila. Benar di sana ditemukan mayat manusia yang tinggal tulang belulang. Segera setelah itu dilakukan pemakan untuk Lestari.
“Benar-benar seperti mimpi...” Arila melukis sekali lagi di danau. “Rila, perutku mendadak sakit.” Rengek ayu.
“Kamu duluan aja engga apa-apa kan? Aku harus membereskan semua ini.”
“Ya udah, aku udah engga tahan.” Kata Ayu sambil berlalu.
Arila membereskan alat lukisnya, namun ada dua orang berpakaian serba putih melambai padanya dari ujung danau. Arila membalasnya. Ia kemudian berinisiatif melukis mereka. Setelah beberapa menit kedua sosok itu menghilang. “Lestari dan Purwanto.” Ucapnya menyelesaikan tahap terakhir lukisan.
“Arila...” Suara tak asing memanggil namanya.
Arila menoleh kaget. “Adi!”

***END***


DATA DIRI
NAMA : Wahyu Eka Arifianti
AKUN MEDIA SOSIAL : @riri.fianti (ig)
KETERANGAN LAIN : Nama pena “Riri Fianti”

Monday, October 16, 2017

Cerpen : Sahabat Nyamuk

Sahabat Nyamuk

Kala itu  langit sedang marah, petir menyambar dengan garang. Isak tangis membasahi gaun putih pengantin wanita. Karena sang mempelai pria tak hadir menepati janji.
            “Aku tak bisa bersama wanita mengerikan sepertimu, ambisimu untuk menjadi dokter forensik bertentangan dengan tujuan hidupku. Apa kata orang, istriku tukang bedah mayat? Aku akan merasa jijik setiap pagi ketika melihatmu.” Kata terakhir calon suaminya sangat menyayat hati. Namun yang lebih mengoyak hati, ketika ia tahu calon suaminya kabur bersama sahabatnya.
            Suatu pagi yang cerah ia duduk di samping kolam menikmati aroma teh ditangannya. Begitu nikmat hingga air mata hampir menetes masuk ke dalam cangkir, sebelum seorang wanita menghampirinya. “Alysa...” Ia membuka mata menyadari sahabatnya datang. “Esok aku akan menikah, benarkah dia yang terbaik untukku? Aku telah memutuskan melepaskan mimpiku untuknya.” Yuni menelan ludah, perlahan duduk di hadapan Alsya. “Tentu saja dia sempurna, apakah kamu ragu?” Alysa mempermainkan air di dalam kolam yang sudah lama tidak diisi ikan, banyak jentik-jentik nyamuk mengisi tepian kolam. “Berkali-kali dia menghianatiku, aku merasa dia berdusta lagi. Entah dengan siapa... apakah denganmu?” Yuni tertawa, diikuti tawaan Alysa yang dipaksakan. “Apa kau menuduhku?” Ledek Yuni. “Kau bilang dia sempurna, aku jadi curiga... awas saja jika kau lakukan itu jentik-jentik ini ketika menjadi nyamuk akan menggigit habis dirimu.” Yuni tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon itu. “Kamu sangat mengerikan Alysa!” Alysa tersenyum puas, tanganya mencipratkan air padanya. Yuni tak ingin kalah mencipratkan air pula pada Alysa, hingga mereka basah kuyup.
            Alysa menatap dirinya di dalam cermin. Bergegas mengemasi barangnya. “Aku akan pergi ke Amerika mendapatkan gelar MSc dan kembali menjadi dokter forensik yang sesungguhnya.” Mendengar perkataan Alysa keluarganya menunduk. Pasrah dengan keputusannya.
            Yuni telah lama menaruh hati pada Taufik, ia begitu terobsesi untuk menghancurkan hubungan mereka. Namun betapa kecewa dirinya ketika tahu kelinci lucu yang dicurinya dari kadang tetangga adalah seekor musang berbulu domba. Tak lama setelah itu, Taufik terkena kasus penipuan dan korupsi. Harus mendekam di penjara selama bertahun-tahun. Tapi tak masalah mereka belum melangsungkan pernikahan. Yuni tetap hidup dengan baik sebelum dia ingat perkataan Alysa.
            Yuni hidup layaknya pebisnis pada umumnya bangun pagi, bertemu klien dan melakukan perjalanan bisnis. Kini ia sedang berlibur mendaki gunung bersama partner bisnisnya. Karena kemalaman mereka memutuskan menginap dan mendirikan tenda. Yuni tidur dengan lelap hingga tak menyadari seekor nyamuk menggigit wajahnya. Keesokan harinya ketika ia bercermin, ia sangat panik mengajak seluruh rekannya pulang.
            Dengan kencang ia memacu mobilnya menuju rumah Alysa. Perasaanya kacau takut untuk bertemu keluarga Alysa, namun ia harus memastikan satu hal.
            “Maaf non Yuni ada perlu apa ke sini?” tanya mbok  Inem pembantu rumah tangga keluarga Alysa. “Aku harus ke kolam Mbok, ada pesan dari Alysa.” Mbok Inem garuk-garuk, “Tapi Non... di rumah lagi ndak ada orang.”
            “Bagus kalau begitu, Mbok. Cepat buka pagarnya!”
            Yuni bergegas menuju kolam belakang rumah. Kolam itu kini jernih tak ada satu jentikpun. “Mbok apa yang terjadi pada kolam ini?” Yuni makin panik, ia mengambil kaca dalam tasnya segera melihat bekas gigitan nyamuk pada wajahnya.
            “Sejak kapan jentik di dalam kolam ini berubah menjadi nyamuk? Tidak... Tidak...”
            “Maksudnya Non...? Mbok ndak tahu beberapa waktu lalu saya pulang kampung. Pekerjaan mengurus rumah digantikan saudara saya. Baru beberapa hari lalu saya balik ke sini.”
             Yuni mengabaikan penjelasan mbok Inem, ia kalang kabut menuju kantor tempat kerjanya segera mengajukan cuti. Orang kantor mulai mengunjingnya, “Dia sudah tidak waras.”
            Benar Yuni sudah tidak waras... setelah mengajukan surat cuti ia mengunci diri di dalam kamar. Dengan penuh ketakutan ia mengoleskan lotion anti nyamuk ke tubuhnya. Tiba-tiba ia menjerit, hampir seluruh tubuhnya timbul bintik merah seperti gigitan nyamuk. “Ada apa ini? Aku tak pernah digigit nyamuk setelah hari itu.”
            Semakin hari keadaan Yuni tak membaik, ia menolak diperiksa dokter walau ibunya berkali-kali membujuk. Kamar Yuni bersih tiada nyamuk, ia tak habis pikir mengapa timbul bintik merah disekujur tubuhnya. Yuni membuka tirai kamarnya menatap curiga dua ekor nyamuk yang sedang berkejar-kejaran di bawah daun bunga dahlia.
            Tiga minggu berlalu, Yuni masih tak keluar dari kamarnya. Ketika ia ingat perkataan Alysa. “Awas saja jika kau lakukan itu jentik-jentik ini ketika menjadi nyamuk akan menggigit habis dirimu.” Ia berteriak-teriak memanggil ibunya untuk membawa segala macam obat nyamuk ke dalam kamarnya.
            Yuni menatap setiap sudut kamarnya, “Benar... mengapa aku takut padamu.” Ia membuka jendela dengan ringkikan tawa menyedihkan. “Masuklah... hiduplah bersamaku sahabatku.” Dalam pandangan Yuni puluhan nyamuk yang masuk ke dalam kamarnya melalui jendela mengangguk dengan senang. Yuni mempermainkan nyamuk-nyamuk itu, tapi ia membiarkan mereka mengigit kulitnya. Salah satu nyamuk berkata pada Yuni. “Kau sudah puas bermain dengan kami?” Yuni tertawa. “Apakah kau mau jadi sahabatku?” Dengan penuh harap pinta Yuni pada nyamuk itu. “Aku hanya beteman dengan satu orang manusia, tugasku di sini menyampaikan pesannya padamu.” Yuni menangis merengek seperti anak kecil, “Kau tidak mau berteman denganku...” Rengeknya. “Tidak.” Jawab nyamuk itu tegas.
            “Apa pesan dari teman manusiamu itu?” selidik Yuni.
            “Awas saja jika kau lakukan itu jentik-jentik ini ketika menjadi nyamuk akan menggigit habis dirimu.” Ucap nyamuk itu berulang-ulang.
            “Tidak... Tidak...” Yuni berlari menuju sudut kamar, ketakutan. Nyamuk-nyamuk mengikutinya dengan sigap. “Baiklah jika itu yang ingin kalian lakukan...” Ia mengambil semprotan nyamuk lalu meminum habis isinya. “Gigitlah aku maka kalian juga akan ikut mati bersamaku.”
            Alysa terkejut mendengar kabar dari Ibu Yuni, ia segera pulang dari Amerika. Ibu Yuni memohon pada Alysa untuk mengotopsi mayat Yuni. “Ia bertingkah aneh sebelum meninggal, dia mengajukan cuti secara tiba-tiba setelah liburan ke gunung. Waktu ditemukan meninggal karena keracunan, pintu jendela kamarnya terbuka. Mungkinkah ada hal lain penyebab kematian Yuni? Saya mohon padamu nak Alysa...”
            Alysa dengan kemampuanya segera menemukan penyebab kematian Yuni dan mengetahui riwayat penyakitnya. Yuni terkena Urtikaria Kronis yang mengakibatkan sekujur tubuhnya timbul bintik merah akibat cuaca yang kurang baik di gunung dan karena stress yang dihadapinya.
            Namun ada yang janggal dengan tingkah aneh Yuni, Alysa mempelajari dokumen Yuni sambil menikmati teh hangat di samping kolam. Kolam itu kini telah diisi dengan ikan, memberikan warna baru bagi Alysa ketika penat meladanya. Setelah kegagalan pernikahannya dengan Taufik ia meminta kolam itu dikeringkan, dibersihkan dari sampah dan jentik-jentik.
            Alysa terperanjat mengingat percakapannya dengan Yuni kala itu. Hampir saja cangkir teh di tangannya terlepas.
            Seekor nyamuk menghampiri Alysa, “Sahabatku, aku telah menyelesaikan tugasku.”
            “Tidak...!” Jerit Alysa.