Sahabat
Nyamuk
Kala itu langit sedang marah, petir menyambar dengan
garang. Isak tangis membasahi gaun putih pengantin wanita. Karena sang mempelai
pria tak hadir menepati janji.
“Aku
tak bisa bersama wanita mengerikan sepertimu, ambisimu untuk menjadi dokter
forensik bertentangan dengan tujuan hidupku. Apa kata orang, istriku tukang
bedah mayat? Aku akan merasa jijik setiap pagi ketika melihatmu.” Kata terakhir
calon suaminya sangat menyayat hati. Namun yang lebih mengoyak hati, ketika ia
tahu calon suaminya kabur bersama sahabatnya.
Suatu
pagi yang cerah ia duduk di samping kolam menikmati aroma teh ditangannya.
Begitu nikmat hingga air mata hampir menetes masuk ke dalam cangkir, sebelum
seorang wanita menghampirinya. “Alysa...” Ia membuka mata menyadari sahabatnya
datang. “Esok aku akan menikah, benarkah dia yang terbaik untukku? Aku telah
memutuskan melepaskan mimpiku untuknya.” Yuni menelan ludah, perlahan duduk di hadapan
Alsya. “Tentu saja dia sempurna, apakah kamu ragu?” Alysa mempermainkan air di
dalam kolam yang sudah lama tidak diisi ikan, banyak jentik-jentik nyamuk
mengisi tepian kolam. “Berkali-kali dia menghianatiku, aku merasa dia berdusta
lagi. Entah dengan siapa... apakah denganmu?” Yuni tertawa, diikuti tawaan
Alysa yang dipaksakan. “Apa kau menuduhku?” Ledek Yuni. “Kau bilang dia
sempurna, aku jadi curiga... awas saja jika kau lakukan itu jentik-jentik ini
ketika menjadi nyamuk akan menggigit habis dirimu.” Yuni tertawa terbahak-bahak
mendengar lelucon itu. “Kamu sangat mengerikan Alysa!” Alysa tersenyum puas,
tanganya mencipratkan air padanya. Yuni tak ingin kalah mencipratkan air pula
pada Alysa, hingga mereka basah kuyup.
Alysa
menatap dirinya di dalam cermin. Bergegas mengemasi barangnya. “Aku akan pergi
ke Amerika mendapatkan gelar MSc dan kembali menjadi dokter forensik yang
sesungguhnya.” Mendengar perkataan Alysa keluarganya menunduk. Pasrah dengan
keputusannya.
Yuni
telah lama menaruh hati pada Taufik, ia begitu terobsesi untuk menghancurkan
hubungan mereka. Namun betapa kecewa dirinya ketika tahu kelinci lucu yang
dicurinya dari kadang tetangga adalah seekor musang berbulu domba. Tak lama
setelah itu, Taufik terkena kasus penipuan dan korupsi. Harus mendekam di
penjara selama bertahun-tahun. Tapi tak masalah mereka belum melangsungkan
pernikahan. Yuni tetap hidup dengan baik sebelum dia ingat perkataan Alysa.
Yuni
hidup layaknya pebisnis pada umumnya bangun pagi, bertemu klien dan melakukan
perjalanan bisnis. Kini ia sedang berlibur mendaki gunung bersama partner
bisnisnya. Karena kemalaman mereka memutuskan menginap dan mendirikan tenda.
Yuni tidur dengan lelap hingga tak menyadari seekor nyamuk menggigit wajahnya.
Keesokan harinya ketika ia bercermin, ia sangat panik mengajak seluruh rekannya
pulang.
Dengan
kencang ia memacu mobilnya menuju rumah Alysa. Perasaanya kacau takut untuk
bertemu keluarga Alysa, namun ia harus memastikan satu hal.
“Maaf
non Yuni ada perlu apa ke sini?” tanya mbok
Inem pembantu rumah tangga keluarga Alysa. “Aku harus ke kolam Mbok, ada
pesan dari Alysa.” Mbok Inem garuk-garuk, “Tapi Non... di rumah lagi ndak ada
orang.”
“Bagus
kalau begitu, Mbok. Cepat buka pagarnya!”
Yuni
bergegas menuju kolam belakang rumah. Kolam itu kini jernih tak ada satu
jentikpun. “Mbok apa yang terjadi pada kolam ini?” Yuni makin panik, ia
mengambil kaca dalam tasnya segera melihat bekas gigitan nyamuk pada wajahnya.
“Sejak
kapan jentik di dalam kolam ini berubah menjadi nyamuk? Tidak... Tidak...”
“Maksudnya
Non...? Mbok ndak tahu beberapa waktu lalu saya pulang kampung. Pekerjaan mengurus
rumah digantikan saudara saya. Baru beberapa hari lalu saya balik ke sini.”
Yuni mengabaikan penjelasan mbok Inem, ia
kalang kabut menuju kantor tempat kerjanya segera mengajukan cuti. Orang kantor
mulai mengunjingnya, “Dia sudah tidak waras.”
Benar
Yuni sudah tidak waras... setelah mengajukan surat cuti ia mengunci diri di
dalam kamar. Dengan penuh ketakutan ia mengoleskan lotion anti nyamuk ke
tubuhnya. Tiba-tiba ia menjerit, hampir seluruh tubuhnya timbul bintik merah
seperti gigitan nyamuk. “Ada apa ini? Aku tak pernah digigit nyamuk setelah
hari itu.”
Semakin
hari keadaan Yuni tak membaik, ia menolak diperiksa dokter walau ibunya
berkali-kali membujuk. Kamar Yuni bersih tiada nyamuk, ia tak habis pikir
mengapa timbul bintik merah disekujur tubuhnya. Yuni membuka tirai kamarnya
menatap curiga dua ekor nyamuk yang sedang berkejar-kejaran di bawah daun bunga
dahlia.
Tiga
minggu berlalu, Yuni masih tak keluar dari kamarnya. Ketika ia ingat perkataan
Alysa. “Awas saja jika kau lakukan itu jentik-jentik ini ketika menjadi nyamuk
akan menggigit habis dirimu.” Ia berteriak-teriak memanggil ibunya untuk
membawa segala macam obat nyamuk ke dalam kamarnya.
Yuni
menatap setiap sudut kamarnya, “Benar... mengapa aku takut padamu.” Ia membuka
jendela dengan ringkikan tawa menyedihkan. “Masuklah... hiduplah bersamaku
sahabatku.” Dalam pandangan Yuni puluhan nyamuk yang masuk ke dalam kamarnya
melalui jendela mengangguk dengan senang. Yuni mempermainkan nyamuk-nyamuk itu,
tapi ia membiarkan mereka mengigit kulitnya. Salah satu nyamuk berkata pada
Yuni. “Kau sudah puas bermain dengan kami?” Yuni tertawa. “Apakah kau mau jadi
sahabatku?” Dengan penuh harap pinta Yuni pada nyamuk itu. “Aku hanya beteman
dengan satu orang manusia, tugasku di sini menyampaikan pesannya padamu.” Yuni
menangis merengek seperti anak kecil, “Kau tidak mau berteman denganku...”
Rengeknya. “Tidak.” Jawab nyamuk itu tegas.
“Apa
pesan dari teman manusiamu itu?” selidik Yuni.
“Awas
saja jika kau lakukan itu jentik-jentik ini ketika menjadi nyamuk akan
menggigit habis dirimu.” Ucap nyamuk itu berulang-ulang.
“Tidak...
Tidak...” Yuni berlari menuju sudut kamar, ketakutan. Nyamuk-nyamuk
mengikutinya dengan sigap. “Baiklah jika itu yang ingin kalian lakukan...” Ia
mengambil semprotan nyamuk lalu meminum habis isinya. “Gigitlah aku maka kalian
juga akan ikut mati bersamaku.”
Alysa
terkejut mendengar kabar dari Ibu Yuni, ia segera pulang dari Amerika. Ibu Yuni
memohon pada Alysa untuk mengotopsi mayat Yuni. “Ia bertingkah aneh sebelum
meninggal, dia mengajukan cuti secara tiba-tiba setelah liburan ke gunung.
Waktu ditemukan meninggal karena keracunan, pintu jendela kamarnya terbuka.
Mungkinkah ada hal lain penyebab kematian Yuni? Saya mohon padamu nak Alysa...”
Alysa
dengan kemampuanya segera menemukan penyebab kematian Yuni dan mengetahui
riwayat penyakitnya. Yuni terkena Urtikaria Kronis yang mengakibatkan sekujur
tubuhnya timbul bintik merah akibat cuaca yang kurang baik di gunung dan karena
stress yang dihadapinya.
Namun
ada yang janggal dengan tingkah aneh Yuni, Alysa mempelajari dokumen Yuni
sambil menikmati teh hangat di samping kolam. Kolam itu kini telah diisi dengan
ikan, memberikan warna baru bagi Alysa ketika penat meladanya. Setelah
kegagalan pernikahannya dengan Taufik ia meminta kolam itu dikeringkan,
dibersihkan dari sampah dan jentik-jentik.
Alysa
terperanjat mengingat percakapannya dengan Yuni kala itu. Hampir saja cangkir
teh di tangannya terlepas.
Seekor
nyamuk menghampiri Alysa, “Sahabatku, aku telah menyelesaikan tugasku.”
“Tidak...!” Jerit Alysa.