Monday, October 16, 2017

Cerpen : Sahabat Nyamuk

Sahabat Nyamuk

Kala itu  langit sedang marah, petir menyambar dengan garang. Isak tangis membasahi gaun putih pengantin wanita. Karena sang mempelai pria tak hadir menepati janji.
            “Aku tak bisa bersama wanita mengerikan sepertimu, ambisimu untuk menjadi dokter forensik bertentangan dengan tujuan hidupku. Apa kata orang, istriku tukang bedah mayat? Aku akan merasa jijik setiap pagi ketika melihatmu.” Kata terakhir calon suaminya sangat menyayat hati. Namun yang lebih mengoyak hati, ketika ia tahu calon suaminya kabur bersama sahabatnya.
            Suatu pagi yang cerah ia duduk di samping kolam menikmati aroma teh ditangannya. Begitu nikmat hingga air mata hampir menetes masuk ke dalam cangkir, sebelum seorang wanita menghampirinya. “Alysa...” Ia membuka mata menyadari sahabatnya datang. “Esok aku akan menikah, benarkah dia yang terbaik untukku? Aku telah memutuskan melepaskan mimpiku untuknya.” Yuni menelan ludah, perlahan duduk di hadapan Alsya. “Tentu saja dia sempurna, apakah kamu ragu?” Alysa mempermainkan air di dalam kolam yang sudah lama tidak diisi ikan, banyak jentik-jentik nyamuk mengisi tepian kolam. “Berkali-kali dia menghianatiku, aku merasa dia berdusta lagi. Entah dengan siapa... apakah denganmu?” Yuni tertawa, diikuti tawaan Alysa yang dipaksakan. “Apa kau menuduhku?” Ledek Yuni. “Kau bilang dia sempurna, aku jadi curiga... awas saja jika kau lakukan itu jentik-jentik ini ketika menjadi nyamuk akan menggigit habis dirimu.” Yuni tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon itu. “Kamu sangat mengerikan Alysa!” Alysa tersenyum puas, tanganya mencipratkan air padanya. Yuni tak ingin kalah mencipratkan air pula pada Alysa, hingga mereka basah kuyup.
            Alysa menatap dirinya di dalam cermin. Bergegas mengemasi barangnya. “Aku akan pergi ke Amerika mendapatkan gelar MSc dan kembali menjadi dokter forensik yang sesungguhnya.” Mendengar perkataan Alysa keluarganya menunduk. Pasrah dengan keputusannya.
            Yuni telah lama menaruh hati pada Taufik, ia begitu terobsesi untuk menghancurkan hubungan mereka. Namun betapa kecewa dirinya ketika tahu kelinci lucu yang dicurinya dari kadang tetangga adalah seekor musang berbulu domba. Tak lama setelah itu, Taufik terkena kasus penipuan dan korupsi. Harus mendekam di penjara selama bertahun-tahun. Tapi tak masalah mereka belum melangsungkan pernikahan. Yuni tetap hidup dengan baik sebelum dia ingat perkataan Alysa.
            Yuni hidup layaknya pebisnis pada umumnya bangun pagi, bertemu klien dan melakukan perjalanan bisnis. Kini ia sedang berlibur mendaki gunung bersama partner bisnisnya. Karena kemalaman mereka memutuskan menginap dan mendirikan tenda. Yuni tidur dengan lelap hingga tak menyadari seekor nyamuk menggigit wajahnya. Keesokan harinya ketika ia bercermin, ia sangat panik mengajak seluruh rekannya pulang.
            Dengan kencang ia memacu mobilnya menuju rumah Alysa. Perasaanya kacau takut untuk bertemu keluarga Alysa, namun ia harus memastikan satu hal.
            “Maaf non Yuni ada perlu apa ke sini?” tanya mbok  Inem pembantu rumah tangga keluarga Alysa. “Aku harus ke kolam Mbok, ada pesan dari Alysa.” Mbok Inem garuk-garuk, “Tapi Non... di rumah lagi ndak ada orang.”
            “Bagus kalau begitu, Mbok. Cepat buka pagarnya!”
            Yuni bergegas menuju kolam belakang rumah. Kolam itu kini jernih tak ada satu jentikpun. “Mbok apa yang terjadi pada kolam ini?” Yuni makin panik, ia mengambil kaca dalam tasnya segera melihat bekas gigitan nyamuk pada wajahnya.
            “Sejak kapan jentik di dalam kolam ini berubah menjadi nyamuk? Tidak... Tidak...”
            “Maksudnya Non...? Mbok ndak tahu beberapa waktu lalu saya pulang kampung. Pekerjaan mengurus rumah digantikan saudara saya. Baru beberapa hari lalu saya balik ke sini.”
             Yuni mengabaikan penjelasan mbok Inem, ia kalang kabut menuju kantor tempat kerjanya segera mengajukan cuti. Orang kantor mulai mengunjingnya, “Dia sudah tidak waras.”
            Benar Yuni sudah tidak waras... setelah mengajukan surat cuti ia mengunci diri di dalam kamar. Dengan penuh ketakutan ia mengoleskan lotion anti nyamuk ke tubuhnya. Tiba-tiba ia menjerit, hampir seluruh tubuhnya timbul bintik merah seperti gigitan nyamuk. “Ada apa ini? Aku tak pernah digigit nyamuk setelah hari itu.”
            Semakin hari keadaan Yuni tak membaik, ia menolak diperiksa dokter walau ibunya berkali-kali membujuk. Kamar Yuni bersih tiada nyamuk, ia tak habis pikir mengapa timbul bintik merah disekujur tubuhnya. Yuni membuka tirai kamarnya menatap curiga dua ekor nyamuk yang sedang berkejar-kejaran di bawah daun bunga dahlia.
            Tiga minggu berlalu, Yuni masih tak keluar dari kamarnya. Ketika ia ingat perkataan Alysa. “Awas saja jika kau lakukan itu jentik-jentik ini ketika menjadi nyamuk akan menggigit habis dirimu.” Ia berteriak-teriak memanggil ibunya untuk membawa segala macam obat nyamuk ke dalam kamarnya.
            Yuni menatap setiap sudut kamarnya, “Benar... mengapa aku takut padamu.” Ia membuka jendela dengan ringkikan tawa menyedihkan. “Masuklah... hiduplah bersamaku sahabatku.” Dalam pandangan Yuni puluhan nyamuk yang masuk ke dalam kamarnya melalui jendela mengangguk dengan senang. Yuni mempermainkan nyamuk-nyamuk itu, tapi ia membiarkan mereka mengigit kulitnya. Salah satu nyamuk berkata pada Yuni. “Kau sudah puas bermain dengan kami?” Yuni tertawa. “Apakah kau mau jadi sahabatku?” Dengan penuh harap pinta Yuni pada nyamuk itu. “Aku hanya beteman dengan satu orang manusia, tugasku di sini menyampaikan pesannya padamu.” Yuni menangis merengek seperti anak kecil, “Kau tidak mau berteman denganku...” Rengeknya. “Tidak.” Jawab nyamuk itu tegas.
            “Apa pesan dari teman manusiamu itu?” selidik Yuni.
            “Awas saja jika kau lakukan itu jentik-jentik ini ketika menjadi nyamuk akan menggigit habis dirimu.” Ucap nyamuk itu berulang-ulang.
            “Tidak... Tidak...” Yuni berlari menuju sudut kamar, ketakutan. Nyamuk-nyamuk mengikutinya dengan sigap. “Baiklah jika itu yang ingin kalian lakukan...” Ia mengambil semprotan nyamuk lalu meminum habis isinya. “Gigitlah aku maka kalian juga akan ikut mati bersamaku.”
            Alysa terkejut mendengar kabar dari Ibu Yuni, ia segera pulang dari Amerika. Ibu Yuni memohon pada Alysa untuk mengotopsi mayat Yuni. “Ia bertingkah aneh sebelum meninggal, dia mengajukan cuti secara tiba-tiba setelah liburan ke gunung. Waktu ditemukan meninggal karena keracunan, pintu jendela kamarnya terbuka. Mungkinkah ada hal lain penyebab kematian Yuni? Saya mohon padamu nak Alysa...”
            Alysa dengan kemampuanya segera menemukan penyebab kematian Yuni dan mengetahui riwayat penyakitnya. Yuni terkena Urtikaria Kronis yang mengakibatkan sekujur tubuhnya timbul bintik merah akibat cuaca yang kurang baik di gunung dan karena stress yang dihadapinya.
            Namun ada yang janggal dengan tingkah aneh Yuni, Alysa mempelajari dokumen Yuni sambil menikmati teh hangat di samping kolam. Kolam itu kini telah diisi dengan ikan, memberikan warna baru bagi Alysa ketika penat meladanya. Setelah kegagalan pernikahannya dengan Taufik ia meminta kolam itu dikeringkan, dibersihkan dari sampah dan jentik-jentik.
            Alysa terperanjat mengingat percakapannya dengan Yuni kala itu. Hampir saja cangkir teh di tangannya terlepas.
            Seekor nyamuk menghampiri Alysa, “Sahabatku, aku telah menyelesaikan tugasku.”
            “Tidak...!” Jerit Alysa.



No comments:

Post a Comment