PELANGI DALAM KEMARAU
Keajaiban bukan hal mustahil. Selagi masih ada kepercayaan dalam sebuah harapan. Beberapa hari ini langit sedang bersukacita memberikan butiran-butiran bening ke bumi. Namun cuaca berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang dirasakan Aurora. Hidupnya seolah merasakan terik matahari pada puncaknya. Kering kerontang layaknya mati. Tak berdaya.
Aurora yakin suatu saat akan ada pelangi dalam kemarau untuknya, yang memberikan butiran kesejukan. Membebaskannya dari belenggu keterpurukan. Dan selalu menenangkan hatinya. Walau hanya keajaiban yang mampu mewujudkannya.
Upacara bendera berjalan dengan khidmat. Semua siswa mengikutinya dengan tertib. Petugas PMR terlihat menganggur karena cuaca tak memberikan alasan untuk tak nyaman mengikuti upacara. Setelah selesai semua siswa kembali ke kelas. Tak seperti biasanya kali ini Ibu Lina datang bersama seseorang. “Selamat pagi anak-anak…!” suara Ibu Lina memecah keramaian. “Pagi Bu…!” jawab mereka serentak. “Anak-anak di kelas kalian ada siswa baru. Silahkan perkenalkan diri kamu!” Ibu Lina menyuruh cowok tinggi, putih, dan berlesung pipi itumemperkenalkan dirinya. “Hai, semuanya nama saya Rizal Fahruddin. Kalian bisamemanggil saya Rizal. Di sini saya memohon bimbingan dari kalian semua…” Katanya dengan disertai senyuman. Seisi kelas menjadi riuh, apalagi para cewek. Bahkan salah satu dari mereka ada yang menyeletuk. “ Manis banget senyumnya…lesung pipinya lucu dech…” Kemudian Ibu Lina menyuruh cowok itu duduk di sebuahbangku kosong, tepat di belakang Aurora.
Pelajaran Biologi berakhir. “Hai, aku boleh pinjem catatan kamu?” Aurora melihat ke asal suara. “Gak boleh, seharusnya jadi murid baru kamu harus lebih aktif.” Rizal tercengang. “Maaf…” ia tersenyum pada Aurora.“Nih, aku pinjemin.” Aurora menyerahkan catatan Biologinya sambil berlalu. “Terimakasih,” Rizal heran dengan sikap cewek itu. “Gak usah heran, dia emang aneh. Mending kamu pinjem catatanku aja.” Seorang cewek bernama Dila menghampirinya. “Terimakasih tapi aku udah pinjem sama. . .” Dila tersenyum kecut. “Namanya Aurora. Mending kamu gak usah deket-deket sama dia.” Katanya masih dengan senyum kecutnya. “Emangnya kenapa?” Rizal menyelidik. “Kamu lihat kan gimana sikap dia? Dia gak mau berteman sama siapapun. Kecuali sepupunya yang satu bangku dengan dia itu.” Ucapnya dengan kesal. “Kenapa dia seperti itu?”Dila menggeleng. “Semua orang benci sama dia…”
Rizal masih tak mengerti. Dia sama sekali tak mempercayai ucapan Dila. Karena ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Aurora.
Pagi ini langit menurunkan butiran bening disertai gelegar petir. Entah langit sedang bersukacita atau marah… Suasana kelas tampak ramai dan berisik. Karena guru matermatika belum datang untuk mengisi pelajaran. Tiba-tiba Aurora bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri Rizal yang sedang asik ngobrol. Merasa dihampiri Rizal tersenyum ramah. “Apa yang kamu lakukan dengan bukuku!” Aurora membanting catatan Biologinya ke meja. Suasana menjadi hening, semua orang memperhatikan mereka.“Jangan kamu pikir aku suka sama coretan itu!” Rizal tetap tersenyum. “Aku hanya ingin bersahabat dengan kamu.” Kemudian ia mengambil buku yang tadi dibanting Aurora dan mengembalikannya. “Kamu lancang!” Aurora menyobek lembaran dalam bukunya yang bertuliskan ‘you are beautifull’. “Ra,udah… jangankayak gini.” Via menenangkan Aurora.Dila tak mau kalah. “Kamu gak apa-apa kan,Zal?” tanyanya. Rizal diam tak menjawab. Merasa diabaikan ia mengambil langkah lain. “Dasar cewek aneh!” Dila menjambak rambut Aurora dengan kencang. “Apa yang kamu lakukan?” Aurora mencoba menghindar. “Lepasin!” Via menarik tangan Dila yang mencengkram rambut Aurora. “LepaskanAurora!” Rizal turun tangan. Akhirnya Dila melepaskan jambakannya. “Ditangannya terdapat rontokan rambut Aurora.“Gila, rambut rambut kamu rontok banyak banget.” Ucap Dila dengan sinis tanparasa bersalah. “Kamu yang gila! Sekali lagi kamu berani nyentuh seujung rambut Aurora, kamu akan berhadapan sama aku!” Via tidak terima saudaranya diperlakukan seperti itu.“Pak Bakti datang…!!!” Seru salah seorang siswa, menyibak ketegangan. Semua segera duduk di bangku masing-masing, menciptakan suasana setenang mungkin, danlarut dalam pelajaran.
Menikmati ketenangan dalam sepi, setidaknya itu yang bisa dirasakan Aurora saat ini. Ia tenggelam dalam buku yang dibacanya hingga tak menyadari seseorang memperhatikannya. Cowok itu menyodorkan sebuah buku padanya. “Apa ini?” Aurora membuka buku yang diberikan padanya. “Aku harap kamu suka.” Rizal tersenyum.
“Puisi…” Ucap Aurora lirih. “Dari mana kamu tahu aku menyukai puisi?” Lagi-lagiRizal tersenyum. “Karena aku sering memperhatikan kamu.”
“Kenapa kamu sering memperhatikanku?”
“Karena aku ingin bersahabat denganmu.”
“Kenapa kamu ingin bersahabat denganku?”
“Ya, karena aku ingin aktif sebagai anak baru, berteman sama siapapun.”
Aurora tertunduk. Mereka terdiam. Berkecamuk dengan pikiran masing-masing. “Aku minta maaf…” Ucap mereka bersamaan. Mereka tersenyum menertawai diri mereka sendiri.“Jadi, kamu udah gak marah sama aku?” tanya Rizal penuh harap. Aurora mengangguk, ia tersenyum. “Sahabat?”Rizal mengulurkan tangannya. Aurorakembali tertunduk, ia terlihat kebingungan. “A… aku sepertinya aku melupakan sesuatu. Maaf aku harus pergi.” Katanya gugup seraya meninggalkan Rizal dengan rasa herannya.
Kala senja menyambut sang mentari. Saat itulah dunia melupakan sisi gelapnya. Entah apa yang telah merasuki Aurora. Kini ia lebih bersahabat terhadap semua orang, termasuk pada Rizal. Malah akhir-akhir ini mereka sering terlihat bersama. Menulis, membaca, dan berpuisi bersama. Seperti pagi ini mereka sedang membahas puisi karya puisitis ternama di taman sekolah. “Ra, aku punya puisi untuk kamu…” Rizal menatap Aurora yang duduk disampingnya. “Apa?” Tanya Aurora penasaran. “Ah… tidak ini bukan puisi tapihanya suatu rangkaian kalimat.” Aurora mengernyitkan kening. “Hmmm… Baiklah apapun itu aku ingin mendengarkannya.”Ucapnya. Rizal menghela nafas dalam-dalam dan menundukkan wajahnya. “Akumungkin tak sempurna. Tak banyak mengerti tentang keajaiban. Tapi izinkankumenjadi pelangi dalam kemarau untukmu…” Rizal menmghela nafas lebih dalam. “Akusayang kamu Aurora…Bukan sebagai sahabat tapi…” Tiba-tiba Auroramenjatuhkan kepalanya ke pundak Rizal. Rizal merasakan ada tetesan yangmembasahi pundaknya. “Aurora, apakah kamu menangis?” tanyanya seraya melihat pada Aurora. Rizal tersentak. “Aurora…!!!”ia sangat panik. Aurora pingsan dengan darah mengalir dari hidungnya.
Rizal lemas, tubuhnya serasa lumpuh dan hatinya terasa hancur. Setelah mendengar penuturan dari Via. Selama ini tanpa satupun orang yang tahu ternyata Aurora menderita penyakit kanker otak. Kini Rizal baru mengerti mengapa Aurora selalu bersikap tak ramah pada oranglain. Karena ia tak ingin meninggalkan kenangan dan membuat rasa kehilangan.“Tapi bukankah masih ada harapan untuk sembuh?” Rizal beruraian air mata.“Jika operasi berhasil maka semunya akan baik-baik aja.” Via menenangkan Rizal.“Aku yakin dia pasti sembuh…”
Angin bertiup lembut mempermainkan debu dalam kemarau. Kering kerontang, layu,tandus, seperti mati. Tak ada kabar mengenai Aurora. Sudah tiga bulah sejak operasi Viabungkam. Walau seribu kali Rizal bertanya padanya. Senyuman khas dengan lesungpipi kini seolah lenyap. Hari-hari Rizal terasa muram. “Bagaimana keadaan Aurora???” tanyanya untuk kesekian kali. “Rizal… Kamu gak usah khawatir, sekarang Aurora telah tenang…” Tubuh Rizal terasalemas, ia jatuh terduduk di hadapan Via. Rizal tertunduk memejamkan mata menahan tangisnya. Tapi tetap saja butiran-butiran bening mengalir bagaikanhujan. “Rizal…” Rizal masih tenggelam dalam lautan dukanya. “Rizal…” Suaralembut itu kembali muncul. Rizal tercengang. Ia membuka matanya. Seorang cewekberdiri di hadapannya dengan mengenakan rok abu-abu panjang, baju putihpanjang, dan kerudung berwarna putih bersih. “Aurora…!!!” Rizal bangkit. “Iya, Rizal…”Cewek itu tersenyum. “Tapi…tapi…tadi…” Rizal menatap Via. “Aku kan belum selesaibicara, kamu sudah nangis seperti itu…” Auroratersenyum. “Sekarang aku merasa tenang, Rizal. Aku telah memantapkan hati untuk memakai hijab. Dan selalu mensyukuri hidup dengan makin dekat dengan Allah.”Rizal tersenyum dengan lesung pipinya. “Kamu terlihat sangat cantik, Aurora…”
Keajaiban memang benar ada, ia nyata. Terkadang datang tak terduga. Kini kemarau telah tersejukkan butiran bening air mata kebahagiaan. Karena keajaiban pelangi dalam kemarau.
*END*
Karya tahun 2013.
No comments:
Post a Comment